May 15, 2008
Siang itu aku temukan diri ku di tengah kerumunan orang-orang yang berjejalan di pinggir jalan. Terik matahari membakar kulit kami. Beruntung bagi mereka yang memakai pelindung. Topi, kaca mata hitam, caping, serta payung. Sedang aku tidak, aku hanya memiliki banyak rasa heran. Tapi itu cukup mengalihkan perhatian.
“Mau kemana kita?”, tanya ku pada seorang ibu tua yang menggendong bayi nya yang hitam kurus seperti mayat hidup. “Entah, kemana saja asal jangan disini!”.
Tempat ku dan orang-orang ini berdiri memang sangat kumuh, kotor, panas, bukan pemukiman sepertinya, tapi juga bukan lapangan. Aku tidak tau tempat macam apa ini. Lalu secara spontan perasaan dan pemikiran ku setuju untuk ikut kemana saja mereka akan pergi. Ke tempat yang lebih baik.
“Lalu kita menunggu apa, ibu?” . Apa saja. Asal bisa membawa kita ke tempat ber-arah lain. Yang lebih aman.
Dari kejauhan tampak taksi biru menuju ke arah kami. “Itu Bu! taksi!!” teriak ku girang. Tapi tidak seorang pun menanggapi teriakan ku. Mereka seolah tidak peduli akan kedatangan taksi itu. Ah, ternyata sang taksi memang cuma lewat dengan sombong nya. Pantas saja mereka mengabaikan aku. “Mengapa taksi itu tidak mampir bu?” Tanya ku setelah ku redakan ledakan perasaan. “Nak, taksi biru hanya untuk mereka yang memakai gaun beludru. Bukan orang-orang kumal dan penuh debu”.
Setelah dua jam berlalu nampak angkutan kota berwarna merah dari arah berlawanan. “Ah!! Ibu! ada kendaraan!!”. Tak ada beda kemudian, angkutan kota hanya lewat tanpa anggukan. “Kenapa angkutan tak juga berhenti ibu?”, lagi ku tanya karena tak ku temukan jawaban dengan logika. Tak kau lihat kah banyak sekali orang berjejalan di dalam nya, nak. Mereka yang ingin mencapai tujuan tapi tidak semua mau bergandeng tangan. Apalagi seperti kita yang berbeda dan penuh persoalan. Egalitarian? Lupakan.
(more…)

