Banyak orang bertanya, apakah arti dari kata cokro, atau biasa saya eja dengan T-j-o-k-r-o, atau memang saya mengenalnya ter-eja t j o k r o. Alamat blog saya. Kebanyakan pertanyaan itu tidak saya jawab. Alasannya adalah sebagai berikut : saya tidak tau pasti apa arti kata itu.
Kata itu saya dapat dari sebuah-seorang-seekor-sejumput-seonggok inspirasi. Begitulah, bukan karena saya malu mengakui bahwa saya tidak tau artinya, mungkin karena saya malu mengakui bahwa saya ini seorang plagiat.
Saya selalu melihat orang lain sebagai guru. Tapi di komunitas saya dulu sulit sekali mencari seorang guru. Atau mungkin karena disana semua adalah guru? Entah. Yang saya ingat, saya lalu memilih satu guru. Adalah mas andri, senior saya. Tanpa ia mengangkat saya menjadi murid nya. Tanpa meminum cawan dengan darah pertalian guru dan murid atau upacara semacam itu. Tidak, ini hanya saya. Istimewa bukan, ia bahkan tidak tau telah menjadi guru bagi saya.
Saya pertama kenal filsafat adalah dari mas Andri sebelum akhirnya mengenal nama-nama asing Eropa seperti Sartre, Marx, dan lain sebagainya. Bahwa segala sesuatu bisa dibikin rumit, dan hal rumit sebaiknya di bikin sederhana saja. Saya pertama mendengar cerita indah tentang Tuhan juga dari mas andri sebelum saya mengenal lebih dalam tentang agama (saya selalu mengingat cerita soal Tuhan yang menggendong manusia di pantai, mas), padahal agama kami lain. Saya mendengar ia berseru dalam ketersesatan saya, dan ia tersenyum setelah saya mencoba mencari jalan saya sendiri.Itulah mengapa secara otomatis hati saya berkata bahwa ia adalah salah satu guru saya dalam hidup. Dalam diam nya pun saya tau dia berpikir tentang semua hal. Apakah saya berlebihan? Suka-suka saya dong. Yang pasti mas Andri mempunyai kesan tersendiri di banding yang lain. Mungkin karena itu tadi, saya mulai mempertanyakan hal sederhana mulanya dari cerminan ia. Apakah anda kemudian akan menyimpulkannya menjadi sebuah roman picisan? Jangan, tidak segampang itu, saudara. Bahwa cinta bisa dimiliki oleh siapa saja, dan cinta bisa berbentuk apa saja, bahkan mungkin saja cinta itu tidak ada. Cinta hanya label. Bila berguru kepada seseorang kemudian anda artikan sebagai cinta. Sungguh, cinta menjadi tanpa arti. Karena bukan cinta yang saya rasakan. Mas Andri, debu, hansaplast, kopi, sajak, pertengkaran, kata-kata, sampah, Susilo Bambang Yudoyono, semua adalah guru. Semoga anda memahami saya.
Saya terkadang malu kalau bertemu dengan beliau di jalan. Saya mencoba menghindari nya sebisa mungkin.Padahal sejujurnya saya ingin menghampiri beliau, lalu bertanya sebanyak-banyaknya. Lebih mudah mendengar dari pada membaca,mas. Tapi saya selalu berpikir, pertanyaan saya akan terdengar bodoh untuk ditanyakan kepadanya. Saya akan malu di hadapannya. Maka, lebih baik saya diam. Saya bersembunyi. Saya simpan pertanyaan-pertanyaan itu, saya tidak mau menanyakan. Sampai saya lupa apa saja pertanyaan-pertanyaan saya. membiarkan pertanyaan menjadi pertanyaan, kalau mendapat jawaban maka ia bukan pertanyaan lagi. Apalagi pertanyaan yang hilang. Buat apa saya kejar jawabannya.
Mas andri seorang seseorang. Pekerja teater. Pelukis. atau apalah lagi. Ia orang heibat. Dari sini lah awal mula cerita di mulai. Setiap kali beliau menggambar atau melukis, realis atau surealis, nyeni atau kartun, nama yang tertera di bawah, samping, atau atas karya beliau adalah Tjokro. T j o k r o. Waktu itu, membaca tanpa mengerti artinya bagi saya sudah indah. Saya pernah mencari artinya. Cokro kelihatannya berarti roda.Kalau Cokrokembang, adalah nama kayangan tempat batara kamajaya tinggal. Entah. Saya tidak tau apa arti pastinya. Siapa dan apa tjokro bagi mas andri, saya tidak akan pernah tau. Tapi bagi saya sebutan cokro lebih mempunyai keindahan dan berdaya magis meski tanpa penjelasan berarti. Cokro, lebih menarik bagi saya di banding Sastro, Karjo, Paijo, ataupun Marno. Demikianlah, nama cokro saya dapatkan.
Malam kemarin tanpa sengaja internet membawa saya sampai di jejak beliau. Saya menemukan mas Andri! Mas Andri Indradie. Yang itu. Yang cokro.
Gambar. Kata-kata. Gambar dan kata-kata mas Andri, the real cokro. Romantisme masa muda, masa tanpa berpikir, masa buta, panggung timur, jalan raya, bendera, panggung, paving, olah vokal, dan ketidakpedulian antar sesama. Hidup memutarkan kembali film lama, sekejap lengkap cepat. Dia lah sang cokro. Bukan saya.
Begitulah. Saya hanya plagiat seorang mas andri. Bahkan menjadi bayangnya pun saya tidak akan mampu. Maka, ketika ada ketakutan ia sampai di blog ini, saya merasa perlu untuk menjelaskan kepada beliau dan semua pertanyaan tentang alamat blog ini.
Kepada Mas Andri, Maaf ya, mas. Sudah jadi alamat blog saya. Terpaku. Tapi hanya mas andri yang punya tang bila ada kehendak untuk mencabutnya.
Sekian. Hidup EmKa, terimakasih.
updated : anu, pak-bu. jadi sama sekali bukan nama keluarga. nama belakang mbah saya : siswoyo dan suharjo. nama belakang bapak saya : puryadi. nuwun
ooh…jadi itu asal mulanya. Ta’ pikir selama ini Tjokro itu nama belakangmu atau nama keluargamu. Btw, jadi penasaran siapakah Mas Andri itu, sampai sebegitu ngefans-nya
cokro itu salah satu nama keluarga temen saya yg punya toko batik mahal ituh hihi~
owalah….aku dulu juga sempet wondering (halah, wondering). kirain tjokro adalah nama keluarga, ndhuuukk….
saya awalnya sudah berpikir tjokro itu guru, tapi guru yang ini : HOS Tjokroaminoto
hmmm…
sama dengan simbok..takpikir cokro itu nama keluargamu lho non..
inspirasi emang datang dari mana kok ya non?
cokro ki majikane inem pelayan seksi….ojo2 kowe seneng nonton film kui put??
cokro adalah senjatanya kresna (asline cakra)…aku suka kresna..tak dukung wis cokromu kui put…
(heh aku kok ra mbok akoni dadi guru to??..durhaka lho)
Wah2, penyampaian yang bagus tuh:d
ngomong2,mas andri itu sapa ya?
Waaa…ko jd pgen knal jg ma ‘guru’nya Puput
Kenalke, Put…
*apik’an jeeennggg…*