wacana yang menarik bila kita bicara soal Golput, Golongan Puput? ya terserah kalau anda mengartikannya seperti itu
mari kita rasan-rasan sambil ngopi dan ngudud.
Dalam sebuah perjalanan demokrasi memang sangat di butuhkan beragam pendapat, keinginan, dan masukan untuk kelangsungan proses itu sendiri. termasuk bila kontribusinya adalah dengan tidak memberikan kontribusi. bukankan diam itu juga merupakan pilihan aktifitas?
Dalam kondisi sekarang, dimana sistem musyawarah sangat tidak mungkin dilakukan mengingat luas nya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga sistem pemilihan melalui pemungutan suara lah yang menjadi jalan keluar, sangat memungkinkan bahwa calon yang di ajukan atau mengajukan diri ada yang tidak sesuai dengan hati nurani logika dan harapan beberapa calon pemilih. Maka jangan di salahkan kalau akhirnya sekelompok orang yang berpikir bahwa aspirasi nya tidak akan mungkin terwujud lewat calon-calon itu memutuskan untuk tidak memilih. Sehingga masih kah bisa di sebut bahwa para golput itu adalah para pengkhianat demokrasi? yang tidak ikut mengawal jalannya sebuah proses? Ouch! sepertinya tidak sepenuhnya benar, saudara.
Seperti yang saya kemukakan diatas, bahwa alasan untuk melakukan golput adalah karena calon yang ada tidak mewakili harapan. Sehingga untuk apa tetap memilih hanya agar dibilang orang tetap menggunakan hak suara nya? sampai di TPU mau nyoblos siapa? mau memilih siapa? random? asal coblos? bukankah itu berarti justru sama dengan menyalah gunakan hak suara?
Ketika seorang golput mengatakan bahwa Ia tidak mengenal calon-calonnya kemudian dijawab dengan ” lho sekarang kan arus informasi sudah lancar, anda bisa mencari tau siapa calon-calon itu dan mengetahui visi dan misi nya, jadi tidak ada excuses untuk anda tetap golput”. Lho? bukan itu persoalannya. Masyarakat sekarang tidak bodoh. Katakanlah pada sosial ekonomi ke bawah, meski tidak bisa meng-akses internet, TV, bahkan koran, mereka masih bisa melihat melalui mata kepala dan dari mulut ke mulut seperti apa calon-calon yang benari-berani nya menawarkan diri menjadi pemimpin. Apalagi dalam skala sempit, PilGub Jawa Tengah misalnya. Tukang becak, tukang ojek, ga perlu meng-akses internet untuk tau siapa cagub dan cawagub. Mereka sudah tau bagaimana seorang figur itu pantas menjadi pemimpin atau tidak. Kalau tidak ada yang mumpuni sehingga membuat mereka memutuskan menjadi golput akankah kemudian disebut menyia-nyiakan kesempatan menjadi warga negara yang baik? Ah saya kira dangkal sekali judgement seperti itu.
Jadi demikian lah. Ketika golput dianggap menjadi sebuah noktah dalam perkawinan, noda dalam kerah baju, setitik nila dalam belanga, maka bijak lah yang menganggap demikian untuk berpikir lagi. Bahwa golput adalah juga kawalan jalannya demokrasi. Bahwa golput adalah sebuah refleksi, apakah calon-calon tersebut memang layak untuk menjadi pemimpin KESELURUHAN rakyat KEBANYAKAN. Kalau masih ada golput, ya NGACA!!! NGACA!!! Situ pantess nggak??!!! see are you good enough to be our leader, look what you’ve done, you’ve made a fool of everyone, it seems like such a fun, until you lose what you had won!! Jangan cuma berdiri dari sekelompok pendukung yang pasti mendukung anda, yang pasti menjilat jalan mulus anda menuju kursi empuk, yang pasti menjadi oportunis sejati. Tapi menjadi lah calon pemimpin yang memang di kenal oleh KESELURUHAN rakyat KEBANYAKAN, di kenal luas kebaikannya, kejujurannya, kebersihannya, keadilannya, kemauannya berpihak kepada kawulo alit, juga keinginan dan kemampuannya menjadikan kita semua menjadi lebih baik dalam segala bidang, to the better future, brighter than sunshine, let the rain fall and i don’t care, I’m yours and suddenly you’re mine.
Begitulah. Kalau menurut saya, lebih baik tidak memilih hanya karena HARUS memilih, bukan karena ingin atau butuh memilih. Hidup ini pilihan. Maka memilihlah untuk tidak memilih jika memang tidak ada yang pantas di pilih.
Jadi, selamat menuju Pemilihan Gubernur Jateng 2008, 22 Juni 2008.


SAYA SARANKAN GOLPUT SAJA…!!!!
sebab,yg kita pilih juga tdk kita kenal….
*HIDUP GOLPUT.*
ya, kalo ga ada yang pantes, ga usah milih :d
lebih baik tidak memilih hanya karena HARUS memilih, bukan karena ingin atau butuh memilih <— kalau saya iseng memilih put…
ya saya! golput juga.. golput adalah suatu pilihan. ketimbang saya nyesel sama pilihan saya, mending ndak usah nyoblos. hehe
check this one out:
http://koolsonic.com/2008/06/22/golput-pada-pilgub-jateng-2008/
kalo aku memilih untuk tidak memilih, sebab waktu itu saya diare, padahal saya tidak memilih untuk diare..
honestly to say calon-calon leader skrg jarang yg melek teknologi (alias promo lwt blog/site).. pdhl masy udah byk yg melek teknologi
dan sekali lagi di TV jarang ada info mengenai calon juga, yg ada palingan promo-promo ala iklan TV bukan model interview atau debat gitu jadinya kita sebagai pemilih asli buta bgt
sy kemarin milih juga buta tentang profil calon-calonnya, asal ex walikota itu gak menang aja udah cukup deh
aku juga nda milih pas pilgub jateng ko put,
eh, ini kamu ikut2an kampanye golputnya gus dur ya ?
saya mah milih calon yang paling realistis aja buat saya pribadi..
Untung saya tinggal di Depok sekarang, jadi gak mesti terjebak harus golput ato milih.
Met kenal Put. Kamu cowok apa cewek sih?
aku juga golput. jadi gak merasa bersalah ngeliat wakil rakyat yang rakus nan mesum.