Di masa kolonial Belanda, anak-anak muda susah mendapat pendidikan yang layak. Mereka terjebak dalam perbudakan fisik dan mental, meski dari sana kemudian muncul beberapa pemuda ‘beruntung’ yang bisa mendobrak sistem penjajahan. Masa revolusi-reformasi, pemuda-pemuda mulai bisa mendapat akses yang mudah dalam dunia pendidikan. Tapi ya itu, negara ini sedang sibuk mencari identitas diri yang dalam perjalanannya justru memakan anak-anak muda itu. Meski dari sana kemudian muncul tunas-tunas baru yang mendobrak rezim penindas pula. Nah kalau sekarang di masa dimana katanya kebebasan sudah milik mutlak bangsa ini, apakah nasib generasi muda itu menjadi lebih baik? jawabnya : TIDAK.
Saya tidak tau bagaimana dengan teori-teori pendidikan ala master-master guru besar pendidik. Saya tidak tau Paulo Freire, saya tidak kenal pasti Ki hajar dewantara, saya mungkin sedikit paham soal kartini. Tapi yang saya ngerti dengan jelas adalah bahwa pendidikan yang baik itu adalah pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan hati nurani yang bertujuan membangun mentalitas, spiritualitas, dan intelektualitas yang seimbang sehingga tercipta pribadi yang sehat jiwa dan raga. Pendidikan itu termasuk hak asasi nggak sih? yang pasti menjadi maju itu penting, jadi, menjadi maju itu harus! Dalam UUD 45 disebutkan di
BAB XIII, PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari
anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-
nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat
manusia.
Lalu apa jadinya kalau hak seseorang memperoleh pendidikan mendapatkan hambatan? Oh anda tidak melihat adanya hambatan-hambatan itu? Baiklah akan saya list sepenglihatan saya yang kontradiktif dengan UUD yang sudah susah payah tanggal 5 Juli ‘59 di dekrit sama bung Karno itu.
hambatan 1 : sistem pendidikan nasional
Saya malu kalau saya harus menyebut berapa nilai ekonomi saya di ijazah yang berhasil meluluskan saya dengan mulus. Tapi hal itu menunjukkan kalau saya bodoh dan beruntung pihak sekolah tidak semata-mata melihat kemampuan saya dari nilai ekonomi saja, tapi melihat perilaku, nilai mata pelajaran lain, juga karena guru BP adalah tetangga saya, serta ketrampilan-ketrampilan di luar teori. See? kemampuan anak tidak bisa di ukur dari baik atau buruknya nilai ujian akhir. Tapi anak-anak jaman sekarang? oh damn! pelajaran yang seperti apa sih yang di jejalkan oleh sistem pendidikan kita yang HARUS di kuasai oleh semua siswa? berapa mata pelajaran aja yang di-uji? apa seperti itu menjamin kualitas pendidikan kita? kalau nilai bagus sih ga masalah (meski belum jaminan dia pinter lahir batin), lha kalau nilai nya pas-pasan? adik temen saya harus ngantri untuk bisa diterima di sebuah sekolah. ga cuma cari kerja aja yang bersaing, masih sekolah aja udah disuruh ber-kompetisi. pasal (1): Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan?? terus pendidikan itu wajib diberi nggak ke setiap warga negara? Lalu siapa yang wajib menyelenggarakan? Jawabnya ada di pasal (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Itu pendidikan tidak diselenggarakan namanya, tapi cuma di sediakan. Lu bisa masuk sukur, enggak juga urusan elu. Lu sekolah sukur, enggak juga yang miskin elu. Oya, ini kita juga bicara soal sarana pendidikan yang memprihatinkan di beberapa sekolah negeri, jangan kan di aceh atau papua yang nun jauh disana, di jakarta saja yang sentral nya pembangunan, kita masih diberi gambaran soal bangunan sekolah negeri yang hampir ambruk. Aduh kapan kita bisa maju? Biar kita bisa jadi bangsa mandiri, bukan terus menerus jadi bangsa kuli di negeri sendiri??
hambatan 2 : Uang
Kata seorang teman, keponakannya yang baru mau mendaftar Taman Kanak-kanak diharuskan membayar 2,5 juta rupiah. UMPTN 2003 hanya butuh uang gedung 1.5 juta rupiah saja. ketika saya dan pacar saya sedang sarapan di sebuah warung soto, haduh penting banget nggak sih? Ada bapak-sepertinya beliau guru di sebuah sekolah menengah pertama- ditanyai ibu yang anaknya akan mendaftar di sekolah tersebut mengenai kebijakan uang gedung atau uang apa istilahnya saya lupa kenapa bisa sebanyak 10 juta lebih. Saya nggak bisa bayangin, gimana kalau saya yang berada di posisi itu? Ga masalah kalau gaji saya diatas UMR, masalah juta-jutaan bisa di tanggulangi. Tapi gimana kalau buat makan aja susah?? Pasal (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Hai orang-orang yang berada di pemerintahan, tau kah anta bahwa ada ibu yang bunuh diri memikirkan biaya sekolah anaknya? Aduh, jadi pemimpin itu berat lho tanggung jawabnya, kalau begini, siapa yang mau nanggung? anta-anta bukan? astagfirullahaladzim.
hambatan 3 : Birokrasi
Ada beberapa sekolah yang menolak murid baru karena tidak punya akte. Karena tidak mengurus kartu keluarga. Karena keluarga nya miskin.Birokrasi membunuh kami,tuan!!!!!!!
hambatan 4 : diskriminasi
Dari postingan mbak yati ini jelas, anak cacat masih susah mendapat tempat. Memangnya otak tempatnya dimana sih? mending cuma cacat fisik, daripada cacat hati nurani!. Cerita nih, di sekolah kakak saya, yang kebetulan dimiliki oleh pengusaha dari ras tertentu berkulit kuning dan bermata sipit, agak melihat miring kalau ada anak-anak dari ras tertentu yang berkulit sawo matang bermata besar banyak mendaftar di sekolah tersebut. kata si cukong yang suka kongkalikong : “kalau kayak gini, bisa-bisa sekolah kita terkenal jadi sekolah jawa!!!” Ini ini ini pasal (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. masih mau melihat segala sesuatu dari SARA? halooo, dua ribu delapan!!!!! 
Sejarah selalu terulang, tapi pilihannya ada 2, sejarah yang berhasil atau sejarah yang kelam yang mau diulang. Sejarah pendidikan yang kelam kok di pertahankan. Umat yang beruntung adalah umat yang bisa berjalan ke depan, umat yang diam di tempat tidak mendapatkan apa-apa, sedang umat yang berjalan mundur adalah umat yang merugi. Lalu mau jadi umat yang mana kita ini?
Kalau bicara soal pendidikan, saya jadi ingat sama novel nya mas Andrea Hirata, Laskar pelangi. Seingat saya, di halaman pujian ada yang bilang begini kira-kira : rugi kalau kita tidak bersyukur dengan kehidupan kita setelah membaca novel itu. Kalau saya berpikir begini, bersyukur itu pasti, tapi jangan kemudian kita membandingkan bahwa jalan pendidikan kita lebih baik dari Ikal, lintang, Mahar,dkk lalu sudah. Berhenti di pemahaman bersyukur, lalu kapan kita bantu anak-anak yang seperti mereka? Padahal hampir semua anak Indonesia bernasib sama seperti para anggota Laskar pelangi itu. Tau iklan provider selular yang berlogo matahari nggak? Yang temanya ikut membangun bangsa. Dari slideshow semua ‘keberhasilan’ pembangunan, ada satu gambar yang seharusnya membuat kita miris. Ketika anak-anak sekolah putih-merah lagi upacara bendera, ada anak lusuh yang ikut hormat bendera dari luar pagar sekolah! Itu kah yang termasuk keberhasilan pembangunan yang sejauh ini bisa kita capai?? harus nya yang bikin iklan itu malu kalau mau menipu. atau dia memang sengaja menyelipkan realitas itu? who knows? yang jelas, menjadi salah satu gelintir nyawa di Indonesia ini saya hanya terngungu. Ah, bangsa miskin dan tidak punya harga diri.
Saya memang pesimis, skeptis, tapi saya sebenarnya tidak mau menjadi apatis. Padahal kalau bersama kita bisa. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Karena hidup adalah perbuatan.
Sama seperti kata-kata mbak Yati : Saya ingin berbuat sesuatu, tapi apa?
Dengan semua lubang-lubang yang menghadang seperti itu, bisakah sang anak sebagai objek aktif dalam pendidikan bisa melalui masa belajarnya dengan baik? Liat deh para juara yang menang olimpiade di luar negeri. Melihat latar belakang mereka kita akan berpikir “ah wajar saja, anak orang kaya”. Mereka mendapat akses yang lebar menuju pendidikan berkualitas, tanpa harus berpikir apakah orang tuanya mampu menyekolahkannya? mampu membayar uang ujian? mampu membeli buku-buku? mampu memberi uang saku? mampu menyediakannya fasilitas? mampu mendukungnya dalam pergaulan yang laju nya sangat pesat dan susah terjangkau? mampu memberinya masa remaja seperti seharusnya masa remaja?
Anak-anak jaman sekarang, kasihan. Hujan pasti reda. Mari kita berharap bersama-sama. Entah itu mantra atau do’a. Bukan kah itu yang hanya bisa di gumamkan ketika menginginkan perubahan?

hayah….jadi serius gini put? kalo fokus ke kasus sekolah cina menjadi sekolah jawa itu, keknya bagus deh
put, komennya belakangan, boolmark dulu aja
sekolah itu sekarang jadi bisnis put..
itung2an biaya sekolahku s2 di undip selama 2 tahun aja masih kalah jauh dengan biaya uang gedung masuk SMA di jalan pemuda itu put…meh sekolah SMA wae kok larang men…
anu, wingi tonggoku nyekolahke montore ra kon mbayar kok put, ..malah dikei duit
)
Yah, sekolah memang sudah menajdi bisnis.. dan guru ataupun pendidik tak bisa berbuat banyak, karena mereka bukanlah pengambil keputusan…
Bahkan saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa untuk mereka
kasian ya anak2 sekarang,, jaman saya dulu, 100 rupiah udah bisa buat jajan,sekarang masuk tk aja udah berjut-jut gitu ya put,,hororrr.. haduh musti makin giat nyari duit online neh..
akupun mulai lelah put, bahkan di taman bermain ku itu, kebakaran mulai melanda, silang sengkarut konflik antar anggota…malas aku sekarang kesana…sikapku ini jangan ditiru ya, tapi aku sudah kelelahan sendiri, jemu mungkin
mentang2 udah lulus,nulis kyk gini…???
huuuuuuuuuu..ga berimbang…!!!
*injek2 yg punya blog*
@mbak yati : kapan mbak saya ini bisa fokus?



@mas adi : tapi dibaca nggak??
@mbak stey : hok’o mbak
@mbak nina : betul guru , bagaimana ini?
@mas Zen : wuuuuu
@mbak may : iya mbak, mari berdoa
@ika : Horor, serem, medeni
@sapi : ah.. (
@mas pepeng : golek perkoro???
mendapatkan pendidikan berkualitas, perlu uang. untuk cari uang, perlu pendidikan berkualitas.